Selasa, 24 Juni 2008
24 Jam Yang Lalu
Dan aku memang tidak sedang membacakan dongeng, seperti dulu pada masa kecil saat nenek membacakan dongeng sebelum aku tidur. Semua tokoh dalam cerita tersebut begitu nyata, dan semua bergerak memantul di kaca mata nenek. ya, dan aku akan menertawakan saat sebuah pohon besar akhirnya kembali menimpa sang buaya pada cerita Si Kancil. Dan kini di bawah terik matahari, aku sibuk menulis cerita. dengan ranting menuliskannya di atas daun kering. Sampai kapanpun aku tak tahu...dan kau, memutuskan sambungan telpon saat aku menceritakannya. Ini mungkin kisah nyata dan akan menjadi nafas legenda pribadi. seperti saat santiago begitu yakin terhadap lautan pasir gurun yang akan memberikan arah pada akhir mimpinya, juga menemukan kembali potongan tulang rusuknya yang hilang dan bersembunyi di sumur-sumur osis dan desah nafas yang tersangkut di ranting ratusan pohon kurma. Namanya Fatima......dan kita memang tidak hidup di lembar-lembar kertas, dan mengaburkan diri kita bersama jutaan huruf, tanda baca, dan angka yang membentuk sebuah cerita yang diinginkan. Pernahkah kau sadar 24 jam yang lalu aku terus memandangi wajah bulan dan mencoba menebak bahwa kau juga sedang melakukannya.
Sabtu, 24 Mei 2008
Abu Abu Yang Rapuh
Kipas angin tua berputar perlahan, deritnya menyatu dengan dingin malam. Sudah beberapa hari ini, aku memilih hidup bersama derit kipas angin tua di dalam kamar kos, dan sudah berpuluh sketsa dihasilkan selama itu. Menggariskan ingatan tentang dunia yang hilang. merangkai genggaman tangan saat menyusuri bukit di belakang rumah, atau memandang camar yang kehilangan arah nun jauh di ujung cakrawala. Sudah lama sekali krisan...Ribuan detik memang tidak terbuang percuma, ingatan itu terus mengendap dan mengeras, membatu bersama mimpi saat pertama kali kita berjanji. Di hadapan dinding biru ruang kuliah, kutancapkan kata "tunggu !" di keningmu. Tahun depan aku akan kembali, membawa serta mimpi yang kau tanam jauh di dalam hatiku, dan selalu kau sirami dengan derai air mata. Mimpi yang tumbuh subur di antara kesedihanmu. Aku hanya abu-abu yang rapuh.......
Rabu, 07 Mei 2008
Mungkin jalanku salah, saat mencoba mengurai arah pelangi di ujung awan kelabu. Tiba-tiba dingin membekukan tulang. Di cermin hanya terlihat wajah pucat pasi. aku memandang bayangan, yang kucoba terka bentuknya. bukan aku ternyata. tangannya bergerak seolah menyapa. "Kenapa kau selalu berikan aku titik saat aku butuh penjelasan dengan panjang lebar, kenapa tidak koma.." kemudiam bayangan itu menyeruak keluar dari cermin dan menuding ke arahku. "Kau yang membiarkanku membusuk di dalam cermin, sementara kau sibuk menyusuri rel waktumu, dan kau biarkan aku menunggu, menunggu waktu seperti saat pertama kali kau mewarnai tubuhku .... dengan tintamu"
Aku terjerembab, kemudian gelap, dan aku menemukan tubuhku diatas bukit mimpi yang sebelumnya ada di dalam buku sketsaku...aku melihat dirimu berlari, menyusuri setapak kecil warna biru, dan aku kini merindu...bayangan setia yang kerap menemaniku bersepeda.....
Aku terjerembab, kemudian gelap, dan aku menemukan tubuhku diatas bukit mimpi yang sebelumnya ada di dalam buku sketsaku...aku melihat dirimu berlari, menyusuri setapak kecil warna biru, dan aku kini merindu...bayangan setia yang kerap menemaniku bersepeda.....
Kamis, 01 Mei 2008
Rel Tua.....
Ya aku mengingatnya, bentangan ratusan kilometer rel tua dari Jakarta hingga Semarang. Seperti lentera penjaga palang yang berkelebat dan memerah saat kuda besi memacu cepat membelah malam, menghancurkan hening dengan derunya. Atau sekedar kerlingan mata, lambaian tangan, dan sedikit deraian airmata dengan jutaan kata yang dimuntahkan dari bibir tipisnya, merangkai kalimat panjang tentang setia. Kemudian ingatan berputar, mengelinding bersama roda besi yang menggilas garis-garis peta. Perlahan-lahan bayangannya yang setia jauh tertinggal....kini aku bersama aku. dihadapan lautan sendiri.
Minggu, 27 April 2008
masa kecil
Tiba-tiba terlintas begitu saja mengenai masa kecil. Masa di mana pertama kali kaki memberanikan diri meniti pematang sawah di belakang rumah, kemudian terjerembab dalam kubangan lumpur. berguling, bersendagurau dan tertawa bersama-sama kawan hinggamalam menjelang. Nun jauh di ujung cakrawala dari balik awan matahari mulai memejamkan mata berselimut bintang, saat itulah beramai-ramai bersama teman-teman, aku kembali pulang. Bersama lumpur disekujur tubuh. rasanya tak ingin kubersihakn, biar selalu terkenang dan lumpur itu kemudian diperguanakn untuk membangun rumam mimpi yang selama ini kuidamkan, dan rasanya semanis kembang gula yang dibelikan ayah.
Minggu, 13 April 2008
Hidup Kembali
Bermimpi pun memerlukan cahaya. dalam tidur mata terpejam rapat. bagaimana ruang sempit di antara kelopak mata dengan bulu halusnya mempersilahkan cahaya menyambangi retina...kilasan kejadian beberapa jam, saat cahaya menjadi raja, penggalan-penggalan kejadian mencium syaraf yang kemudian menegang, lalumenarik kencang sel-sel kelabu, pita-pita seluloid di alam sadar pun mulai bekerja, memindahkan dengan hati-hati penggalan kejadian menjadi ingatan. Dan di alam mimpi, cahaya renta 1 x 16 jam yang telah mati kembali diputar....ingatan-ingatan itupun muncul kembali.
Kamis, 10 April 2008
Mau Kemana ?
Saat tersadar, tubuh menggigil sejadi-jadinya. Ternyata jendela terbuka. dengan malas aku bergegas beranjak. matahari pagi telah membuka daun jendela lalu menyapa" Bagamana tidurmu..?", dan aku menguap sambil berusaha membuka mata lebar-lebar. tadi malam kerja hingga larut, lukisan pesanan teman harus segera diselesaikan. melukiskan ruangan temaram dengan lentera yang diletakkan di atas meja bundar. tiga orang duduk melingkar sambil memegang erat tangan yang lainnya. lalu sinar putih menyeruak dari jendela menciptakan bayangan kelabu di dinding warna abu-abu. dan dipojok ruangan lukisan tersebut terdiam membisu. dan memang sudah siang ternyata, di dinding jam menunjukkan pukul tujuh. Dari balik jendela kamar kulihat semuanya, tiga orang dalam lukisanku berlari-lari. Di atas rerumputan mereka tertawa. kebebasan yang aneh. Tanpa alas kaki tiga orang itu terus berlari dan terus berlari. mengelilingi halaman yang dipenuhi mawar. berlari bermandikan aroma mawar. lalu aku menarik selimutku, dan membenamkan tubuhku dalam-dalam. dan aroma mawar menyambangi kamar tidur yang sebelumnya pengap menhantarkan mataku terpejam dan kembali ke dunia nyata.
Langganan:
Postingan (Atom)