Kamis, 04 Desember 2008

Krisan

Awal Desember, saat anak-anak hujan rajin sambangi pucuk-pucuk bukit. Aku meningglkan krisan ku. Tak ada lagi yang harus diperbuat. Kehidupan memang harus berubah dan terus berputar. Bumi menjadi basah, dan semua orang berlindung di dalam bilik-bilik bambu di sepanjang jalan. Aku terus memacu sepeda tuaku...saat kutatap wajahnya untuk terkhir kali, aku tidak melihat senyum manisnya yang selalu mengantarkanku pergi dan menemaniku saat akan kembalike hutan mimpi untuk berburu harapan. Hanya seringai...."Biarlah..." kehidupan memang tidak selamanya menjual mimpi, terkadang dia memberikan kenyataan yang pahit, seringai yang lelap tidur dipelupuk mataku, tak kuasa mengusir, walau tidak bisa menumpahkan air mata-ku, dan kini aku berada di ladang krisan..ribuan krisan.....

Selasa, 28 Oktober 2008

Krisan

Krisan yang cantik..sejak aku menyusuri jalan setapak kemarin malam, aku sudah tidak bisa lagi mencium aroma malam. aku hanya merasakan dingin di kaki ku. embun yang menyelimuti ilalang kini menempel di kaki hingga sebatas lutut. Aku terus berjalan walau aku tahu jam telah menunjukkan hampir dini hari. Saat aku mencoba mendengarkan detak jam berbunyi..aku hanya merasakan nafas yang tersengal akibat lelah. Krisan kau buat hariku lebih berarti..walau dalam menjalaninya hanya ada kepongahan dan keangkuhan aku yang kerap membuatmu bersedih, sehingga menenggelamkanmu dalam lamunan. Lima tahun yang lalu krisan..saat kusadari bahwa dirimu indah adanya..seperti mentari yang baru terbit setelah hujan semalaman. Kini di telapak tangan ku kau, krisan, terlelap, dan kubawa tidur semalam tadi walau aku tahu hari telah berganti..dan kau telah meninggalkanku bersama hujan tadi pagi...selamat jalan krisan..aku akan mengingatmu seperti malam yang indah adanya.....

Rabu, 30 Juli 2008

Sampai Disini....

Dengar krisan..saat pertama kali kulihat dirimu bermandikan cahaya pagi, berselimuti kabut tipis, disitu telah kugantungkan mimpi. Seorang pembual akan berhenti membual. Walau bibirku mengering, mengelupas, seperti tanah coklat dimusim kemarau. Saat itu tak ada lagi air mata yang keluar dari seorang gadis yang bersedih karena kekasih tak kunjung kembali. Krisan kapal mimpi ku telah lama karam, tenggelam dan terbenam bersama lumpur kesendirian. dan aku tetap merasa sendiri kini...kau ada hanya dalam pikiran, dan krisan yang menyejukkan siap melompat keluar melalui daun jendela. dan mengabur bersama debu siang.

Selasa, 24 Juni 2008

24 Jam Yang Lalu

Dan aku memang tidak sedang membacakan dongeng, seperti dulu pada masa kecil saat nenek membacakan dongeng sebelum aku tidur. Semua tokoh dalam cerita tersebut begitu nyata, dan semua bergerak memantul di kaca mata nenek. ya, dan aku akan menertawakan saat sebuah pohon besar akhirnya kembali menimpa sang buaya pada cerita Si Kancil. Dan kini di bawah terik matahari, aku sibuk menulis cerita. dengan ranting menuliskannya di atas daun kering. Sampai kapanpun aku tak tahu...dan kau, memutuskan sambungan telpon saat aku menceritakannya. Ini mungkin kisah nyata dan akan menjadi nafas legenda pribadi. seperti saat santiago begitu yakin terhadap lautan pasir gurun yang akan memberikan arah pada akhir mimpinya, juga menemukan kembali potongan tulang rusuknya yang hilang dan bersembunyi di sumur-sumur osis dan desah nafas yang tersangkut di ranting ratusan pohon kurma. Namanya Fatima......dan kita memang tidak hidup di lembar-lembar kertas, dan mengaburkan diri kita bersama jutaan huruf, tanda baca, dan angka yang membentuk sebuah cerita yang diinginkan. Pernahkah kau sadar 24 jam yang lalu aku terus memandangi wajah bulan dan mencoba menebak bahwa kau juga sedang melakukannya.

Sabtu, 24 Mei 2008

Abu Abu Yang Rapuh

Kipas angin tua berputar perlahan, deritnya menyatu dengan dingin malam. Sudah beberapa hari ini, aku memilih hidup bersama derit kipas angin tua di dalam kamar kos, dan sudah berpuluh sketsa dihasilkan selama itu. Menggariskan ingatan tentang dunia yang hilang. merangkai genggaman tangan saat menyusuri bukit di belakang rumah, atau memandang camar yang kehilangan arah nun jauh di ujung cakrawala. Sudah lama sekali krisan...Ribuan detik memang tidak terbuang percuma, ingatan itu terus mengendap dan mengeras, membatu bersama mimpi saat pertama kali kita berjanji. Di hadapan dinding biru ruang kuliah, kutancapkan kata "tunggu !" di keningmu. Tahun depan aku akan kembali, membawa serta mimpi yang kau tanam jauh di dalam hatiku, dan selalu kau sirami dengan derai air mata. Mimpi yang tumbuh subur di antara kesedihanmu. Aku hanya abu-abu yang rapuh.......

Rabu, 07 Mei 2008

Mungkin jalanku salah, saat mencoba mengurai arah pelangi di ujung awan kelabu. Tiba-tiba dingin membekukan tulang. Di cermin hanya terlihat wajah pucat pasi. aku memandang bayangan, yang kucoba terka bentuknya. bukan aku ternyata. tangannya bergerak seolah menyapa. "Kenapa kau selalu berikan aku titik saat aku butuh penjelasan dengan panjang lebar, kenapa tidak koma.." kemudiam bayangan itu menyeruak keluar dari cermin dan menuding ke arahku. "Kau yang membiarkanku membusuk di dalam cermin, sementara kau sibuk menyusuri rel waktumu, dan kau biarkan aku menunggu, menunggu waktu seperti saat pertama kali kau mewarnai tubuhku .... dengan tintamu"
Aku terjerembab, kemudian gelap, dan aku menemukan tubuhku diatas bukit mimpi yang sebelumnya ada di dalam buku sketsaku...aku melihat dirimu berlari, menyusuri setapak kecil warna biru, dan aku kini merindu...bayangan setia yang kerap menemaniku bersepeda.....

Kamis, 01 Mei 2008

Rel Tua.....

Ya aku mengingatnya, bentangan ratusan kilometer rel tua dari Jakarta hingga Semarang. Seperti lentera penjaga palang yang berkelebat dan memerah saat kuda besi memacu cepat membelah malam, menghancurkan hening dengan derunya. Atau sekedar kerlingan mata, lambaian tangan, dan sedikit deraian airmata dengan jutaan kata yang dimuntahkan dari bibir tipisnya, merangkai kalimat panjang tentang setia. Kemudian ingatan berputar, mengelinding bersama roda besi yang menggilas garis-garis peta. Perlahan-lahan bayangannya yang setia jauh tertinggal....kini aku bersama aku. dihadapan lautan sendiri.